Rabu, 02 Maret 2011

Review : Memories Of Geisha



Memoirs of a geisha atau memoar seorang geisha merupakan novel fiksi karangan Golden Arthur, seorang penulis yang berasal dari Amerika Serikat. Memoirs of a geisha ditulis oleh Arthur pada tahun 1997 dan selesai pada tahun 1999. Memoirs of a geisha menceritakan perjalanan hidup seorang gadis kecil bernama Chiyo Sakamoto yang berasal dari keluarga nelayan miskin di daerah Yoroido, Jepang, selama Era Showa. Perjalanan hidup Chiyo Sakamoto penuh dengan lika-liku dan perjuangan. Kisah hidupnya yang menderita dimulai saat ia berusia sembilan tahun. Saat itu, ia dan kakaknya yang bernama Yuko Sakamoto dijual oleh ayahnya ke seorang pedagang karena ayahnya tak sanggup lagi membiayai hidup mereka. Pedagang tersebut kemudian membawa Chiyo dan kakaknya ke Gion untuk dijual ke sebuah rumah bodir yang disebut okiya. Sesampainya di Gion, Chiyo harus berpisah dengan kakaknya karena mereka dijual ke okiya yang berbeda.

Chiyo dijual ke sebuah okiya yang bernama Okiya Nitta. Di tempat itu, Chiyo harus bekerja untuk menebus uang yang telah digunakan okiya tersebut untuk membeli dirinya dan untuk biaya hidupnya saat ia berada di Okiya Nitta. Ia harus bekerja setiap hari sebagai budak di okiya tersebut. Chiyo Sakamoto terus berjuang untuk hidup meskipun berat. Selain itu, Chiyo juga harus menghadapi perlakuan semena-mena dari Hatsumomo, seorang geisha di Okiya Nitta yang juga merupakan salah satu geisha yang sangat terkenal di Gion. Hatsumomo tidak menyukai Chiyo dan berusaha untuk mengusirnya dari Okiya itu. Hatsumomo menggunakan cara yang licik untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Namun, Chiyo selalu berhasil luput dari kelicikan Hatsumomo, meskipun kadang harus terluka dan hampir mati.

Chiyo tak ingin terus hidup menderita dan menjadi sasaran kegilaan Hatsumomo. Chiyo tahu bahwa sesuatu yang bisa mengubah hidupnya menjadi lebih baik adalah dengan cara menjadi geisha. Seorang “wanita penghibur istimewa” yang memang diciptakan oleh sebuah okiya. Dengan menjadi geisha saat iia dewasa nanti, Chiyo bisa mendapatkan banyak uang dan popularitas. Namun, Chiyo juga tahu bahwa menjadi geisha bukanlah hal yang mudah. Ia harus bisa menguasai bermacam-macam tarian dan dapat menarikannya dengan anggun. Ia juga harus cerdas dan bisa memainkan samisen-alat musik petik khas Jepang- dengan baik.

Chiyo berusaha dengan keras untuk mewujudkan keinginannya. Ia tekun belajar dan berlatih, mengasah dengan rajin kemampuan seninya. Suatu hari, Chiyo bertemu dengan Mameha yang merupakan geisha paling terkenal dan memiliki harga paling mahal di Gion. Mameha merupakan saingan utama Hatsumomo. Mameha yang tertarik dengan diri Chiyo dan merasa kasihan pada Chiyo karena menjadi korban kelicikan Hatsumomo, berniat untuk mendidik Chiyo banyak hal, terutama mengajarinya untuk menjadi seorang geisha.

Mameha mengajari Chiyo hingga Chiyo dewasa. Berkat latihan dan pengajaran yang diberikan oleh Mameha dan kerja keras Chiyo, Chiyo mampu mewujudkan mimpinya menjadi seorang geisha, bahkan menjadi geisha yang terkenal.Chiyo dapat menjadi geisha terkenal karena dia memiliki kecerdasan dan kemampuan seni yang lebih daripada geisha-geisha lainnya. Setelah menjadi seorang geisha, nama Chiyo berubah menjadi Sayuri Nitta. Hatsumomo yang melihat Sayuri Nitta yang menjadi sangat terkenal dan bahkan telah mampu menyaingi dirinya, tidak bisa tinggal diam. Usaha Hatsumomo untuk menyingkirkan Sayuri semakin menjadi-jadi. Segala usaha dia tempuh meskipun dengan cara yang sangat licik. Segala fitnah atau tuduhan keji ditujukan pada Sayuri. Namun, Sayuri yang cerdas berhasil mengalahkan segala tipu daya Hatsumomo. Karena usahanya tidak pernah berhasil, akhirnya Hatsumomo menjadi gila akibat perbuatan liciknya yang dia lakukan untuk menyingkirkan Sayuri.

Terdapat beberapa pesan moral yang disampaikan novel ini. Salah satunya novel ini mengajarkan bahwa untuk mencapai apa yang kita inginkan dibutuhkan suatu usaha dan kerja keras. Begitu juga dalam menjalani hidup, butuh perjuangan dan pengorbanan untuk dapat melaluinya. Seperti yang dilakukan si kecil Chiyo Sakamoto, dia harus berjuang dengan cara bekerja layaknya budak di sebuah okiya untuk dapat mendapatkan makanan dan tempat tinggal. Ia juga belajar membaca dan berhitung dengan tekun , belajar seni seperti menari dan memainkan alat musik dengan sungguh-sungguh demi meraih impiannya untuk menjadi seorang geisha. Tentu semua itu tidak mudah, tapi dalam novel ini, Chiyo Sakamoto telah membuktikan bahwa dengan kerja keras, dia mampu mewujudkannya.

Selain pesan moral tersebut, ada pesan lain yang dapat diambil dari novel ini, yaitu segala bentuk kecurangan tidak akan membawa kemenangan. Ketidak jujuran dan persaingan yang tidak sehat akan membawa kerugian bagi yang melakukannya sendiri. Seperti yang diceritakan di dalam novel ini mengenai Hatsumomo yang menggunakan segala cara yang tidak baik untuk dapat menghancurkan Chiyo Sakamoto/Nitta Sayuri demi mewujudkan ambisinya untuk menjadi geisha terhebat di Jepang. Namun Hatsumomo tidak pernah berhasil mewujudkannya dan justru membuatnya menjadi gila. Semua itu akibat dari perbuatannya sendiri.

Memoirs of a geisha berbeda dengan novel-novel lainnya. Novel Memoirs of a geisha yang menjadi best seller ini sarat dengan pesan moral. Oleh karena itulah, sangat sayang jika novel ini dilewatkan. Gaya bahasa yang khas dari Golden Arthur dan latar belakang Jepang yang begitu kental, turut mewarnai kelebihan novel ini. Bagi Anda yang menyukai kisah-kisah Jepang, belum lengkap rasanya jika belum membaca Memoirs of a geisha.

Jumat, 25 Februari 2011

Kekkaishi

Kekkaishi (結界師) adalah
manga karya Ierou Tanabe
(Tanabe Yellow). Manga ini
diterbitkan sejak 15 Maret 2004
oleh Shogakukan dan masih
berlanjut hingga sekarang. Di
Indonesia, Kekkaishi diterbitkan
oleh Elex di majalah Shonen Star.
Dan pada tanggal 11 November
2009 Elex menerbitkan
manganya dalam bentuk
tankoubon .Di Jepang, Kekkaishi
meraih predikat komik terbaik
kategori komik cowok versi
Penghargaan Manga Shogakukan
ke-52 tahun 2007.
Jalan Cerita
Cerita dimulai ketika tokoh utama
Yoshimori Sumimura yang
berumur 9 tahun yang biasa saja.
Tetapi dia sebenarnya pewaris
generasi ke-22 dari para
Kekkaishi. Kekkaishi adalah
orang-orang yang bisa
menciptakan kekkai atau
pelindung berbentuk persegi,
dan mengurung serta
menghancurkan siluman yang
terperangkap di dalamnya. Setiap
malam, Yoshimori mencari dan
membinasakan siluman ditemani
anjing hantu bernama Madarao.
Selain keluarga Sumimura,
adapula keluarga Yukimura yang
juga kekkaishi. Hubungan
mereka kurang begitu baik.
Dahulu, kekkaishi digunakan
untuk melindungi tuan tanah
bernama Karasumori. Karena
suatu hal, mereka akhirnya
dihabisi oleh para siluman yang
datang ke tanah milik mereka.
Siluman-siluman itu tertarik
dengan kekuatan spiritual yang
dipancarkan tanah tersebut
sehingga mereka mendatangi
tanah itu untuk menjadi lebih
kuat.
Dari keluarga Yukimura
pewarisnya adalah Tokine
Yukimura. Dia juga ditemani
seekor anjing hantu bernama
Hakubi yang genit. Kedua orang
ini selalu melakukan tugasnya
dengan baik. Suatu ketika
Yoshimori lengah dan kewalahan
melawan seekor siluman
bercakar besar dan hampir
tewas. Beruntung Tokine datang,
tetapi tangannya terluka dan dia
sekarat. Sampai sekarang bekas
lukanya masih membekas. Sejak
saat itu, Yoshimori bertekad
untuk menjadi kekkaishi yang
hebat agar Tokine tidak terluka
lagi.
Semakin lama, masalah semakin
rumit, ketika terungkap apa
karasumori itu sebenarnya.
Belum lagi masalah kurang tidur
yang dialami Yoshimori, masalah
asmara dengan Tokine dan
sebagainya.
Akhirnya Yoshimori bertemu
dengan teman yang juga
suruhan kakaknya Masamori. Dia
bernama Gen Shisiho. Saat
pertama kali bertemu Gen dan
Yoshimori seringkali bertengkar.
Tapi setelah berapa lama
akhirnya merekapun dapat
berkarja sama. Dan meraka pun
harus menghadapi organisasi
ayakashi bernama Kokubourou.
Setelah itu mereka
menghadadapi ayakashi-
ayakashi hebat dari sana.
Akhirnya mereka berhasil
melindungi Karasumori dengan
mengorbankan nyawa Gen
Shishio.
Setelah kematian Gen markas
Yagyo pindah ke kediaman
Sumimura. Yoshimori berjanji
kepada teman Gen yang
bernama Sen Kagemiya akan
membalaskan dendam Gen. saat
melawan Kokubourou, Yoshimori
menyerahkan diri kepada Shion
yang menyamar menjadi Kaguro.
Saat Byaku akan memasukkan
serangganya kepada Yoshimori,
Yoshimori mengeluarkan Zekkai.
Saat itu Yoshimori ditolong oleh
Matsudo Heisuke teman kakek
Shige yang telah meninggal.
Akhirnya Matsudo melawan
Byaku. Byaku kalah. Lalu
Yoshimori menyelamatkan Sen
yang disekap Kokubourou.
Tokine yang melawan Koshu
menang dengan mudah. Tiba
saatnya Yoshimori melawan
Kaguro. Yoshimori yang
kewalahan, menang saat Sen
nyaris terkena tebasan Kaguro
dengan menciptakan Kekkai
yang memiliki kekuatan seperti
Zekkai. Sen yang terkurung di
dalamnya tak bisa apa-apa.
Masamori menggunakan Zekkai
untuk menembus Kekkai
Yoshimori. Masamori kewalahan,
bahkan Tokine pun turun tangan
dengan jurus yang diajarkan
nenek Toki. Akhirnya Tokine
dapat menembus Kekkai
Yoshimori dan Masamori dapat
menembusnya. Kokubourou pun
runtuh.
Setelah itu pun Yoshimori
meminta maaf. Akhirnya markas
Yagyo pun kembali ke
tempatnya,hari-hari kembali
seperti biasanya. Karasumori pun
tetap dilindungi Yoshimori dan
Tokine.

Rave Master

Rave bercerita tentang Haru
Glory, seorang remaja yang
tinggal di pulau Garage
menemukan makhluk aneh yang
mempunyai badan kecil serta
hidung seperti bor. Haru
diberitahu oleh Shiba bahwa itu
adalah "Plue". Makhluk itu adalah
makhluk yang menemani Rave
Master sebagai Rave Warrior.
Tidak lama setelah itu, Feber,
Anggota dari Demon Card
(organisasi yang berencana
menggunakan dark bring untuk
menguasai dunia) menemukan
Shiba dan meminta Shiba untuk
memberikan Rave padanya. Shiba
menolak dan akhirnya Feber
menggunakan kekerasan. Shiba
kemudian memberikan Rave
pada Haru dan menyuruhnya
kabur tetapi Haru menolak untuk
kabur dan mencoba untuk
menolong Shiba. Saat Feber
mencoba untuk mengambil Rave
dari Haru, Haru tiba-tiba
mengeluarkan kekuatan Rave
dengan pukulannya yang
akhirnya Feber kalah dengan
Explosion (Jurus Rave). Shiba
terkejut sekaligus menyadari
bahwa Haru telah dipilih oleh
Rave untuk menjadi Rave Master
kedua. Sejak hari itu Haru mulai
mencari sisa bagian dari Rave
dan memulai perjalanan untuk
menghancurkan Demon Card.

Minggu, 18 Oktober 2009

J~Music

SID

シド (SID) first came together in 2003, when Mao recruited Aki after seeing him play live. He later recruited Yuuya and Shinji from their respective bands to work with SID part-time as support, and it wasn't until early next year (2004/01/14, making 1/14 the band's official anniversary) that they chose to remain with SID as official members, leaving the band with a full and lasting lineup.
The band started off small, but not without a certain charming flair. Where most bandmen handed out fliers, they also used megaphones as a means of personal promotion. Despite having only a small collection of songs to offer, they worked relentlessly to produce more. Their releases varied widely in style and composition, and the band made it an obvious goal to appeal to a broad audience - a plan which obviously worked. SID grew rapidly in their initial years, at a rate which surprised numerous publications and notoriously earned them the title "the monster band of the indie scene".
SID signed first with Danger Crue records, working with Yasunori Sakurazawa, who aided in the arrangement of many of their early songs. Before long, even at their then indie status, SID began charting with major releases on Oricon and successfully selling out numerous large venues, Budokan among them. They stood out from their peers with their ever-changing sound and the ease with which they could shift between styles, a characteristic that could describe few other visual kei bands. Their major debut concert was held on November 2nd, 2008 at Nippon Budokan - selling out in under three minutes - and following a final indie tour held within standing live halls all throughout Japan.
Since their major debut, SID have gone on to release three new singles under Sony, the most recent of which (嘘 [Uso]) ranked in at second on Oricon and landed them a spot on the popular show Music Station for the first time. The song has also been adopted as the first ending to the anime Fullmetal Alchemist: Brotherhood. Their first major album, 「hikari」, was released on July 1st, 2009, and will serve as the primary set list for what will be their largest tour to date. They have announced that there will be a new single out on 11 November called 'One Way'.

CANZEL

Canzel, band baru indie Visual-kei yang beraliran Oshare-kei, merupakan salah satu band yang sepanjang tahun 2008 ini sangat perhatikan terus perkembangannya. Mereka memang tergolong baru, tapi jangan salah. Beberapa karya awalnya berupa dua buah single yang masing-masing diberi judul FiRST STEPS E.P. dan NeXT SEASONS E.P. sangat aku apresiasi sekali. Mungkin ada beberapa lagu yang terdengar familiar dengan beberapa lagu dari band-band Visual-kei lainnya. Tapi tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Canzel menjadi sebuah band yang layak untuk diperhitungkan ke depannya nanti. Dan debut album yang diberi tajuk NeO PRESENCE E.P.S menjadi penegasan serta pembuktian mereka. Yup, album ini sangat WORTH sekali untuk disimak. Trust me!

Siapa sih Canzel itu? Sebenarnya band yang terbentuk sejak bulan Juli 2007 ini bukan lah band anak kemarin sore. Sebab, para personilnya sudah pernah bermain dalam band-band indie sebelumnya. Ada lima orang personil. Mereka adalah Itchi [eks ErecSia, ALPHONSTEIN, Milphinne, PARADE] pada posisi vokal, Mio [eks Delphinium] sebagai gitaris, Ruri [eks ElDorado, Porori, Cube Line] juga sebagai gitaris, Haku [eks Halcion, Bach] memegang alat bass dan terakhir adalah Yukimi yang menggawangi posisi drum. Warna musik yang mereka mainkan secara keseluruhan bisa dikatakan sebagai rock. Kadang rock yang catchy namun juga kadang menampilkan heavy-rock. Dalam hal aransemen lagu, Canzel bisa dijadikan andalan dan tidak perlu diragukan lagi!

Album NeO PRESENCE E.P.S ini sendiri di dalamnya total berisikan delapan buah lagu. Lagu-lagu [termasuk lagu B-side] yang ada dalam dua buah single Canzel sebelumnya dimasukkan ke dalam album ini. Dan mengalami rerecording alias proses rekam ulang. Jadi terlihat lebih fresh dengan sound-sound yang lebih tajam. Well, tanpa basa-basi lagi, langsung saja kita menyimak album ini dengan track pembuka yang mengambil judul fuTures woRd [03:03]. Track ini memang dianggap sebagai track intro yang diisi dengan permainan instrumental saja. Tapi biarpun instrumental, dengan iringan nada-nada yang melodi-catchy dan sedikit nge-beat, track ini terasa asyik untuk disimak. Serius! Sebuah track pembuka yang bagus!

Kemudian diteruskan dengan Allegro [04:19], lagu unggulan dari single FiRST STEPS E.P. yang dirilis bulan Maret 2008 kemarin. Yup, ini merupakan lagu terbaik miliknya Canzel. Baik itu secara komposisi maupun aransemen-nya. Intro yang durasinya agak lama langsung dibuka dengan alunan melodi-gitar khas Oshare-kei dengan iringan driving bass miliknya Haku yang cukup menonjol. Verse-verse yang dibawakan Itchi cukup asyik. Bisa membuat siapa saja untuk menggoyangkan badannya saking nge-groove-nya. Bagian chorus diisi dengan tempo yang sedikit nge-beat dengan tabuhan snare yang cepat. Interlude-interlude yang dimainkan sungguh terasa apik sekali. Lengkap dengan iringan beberapa kali sentuhan solo gitar [walaupun singkat sih]. Mendengarkan lagu ini tentu saja mengingatkan kita akan lagu-lagu dari band aliran sejenis, mulai dari ayabie, alice nine. bahkan sampai ke DaizyStripper.

Selesai dengan Allegro, diteruskan kemudian dengan lagu berikutnya yang juga merupakan lagu unggulan dalam single NeXT SEASON E.P. yang rilis bulan Juli 2008 kemarin. Yaitu MISOGI [04:21]. Very good song! Musiknya rada berat dengan sesekali low-tune pada gitar. Itu sudah terasa sejak intronya yang juga dibarengi dengan betotan bass yang lugas. Sepanjang verse, dentingan piano yang sangat identik dengan sentuhan tradisional Jepang selalu mengiringi dengan manisnya. Memberikan warna tersendiri. Bagian chorus lagu MISOGI ini benar-benar awesome! Love it! Nuansa berat juga sempat dimainkan saat pada bagian interlude. Di balik itu semuanya, walaupun berat, Canzel mempermanis lagu ini dengan alunan-alunan melodi yang apik. Baik itu dari instrumen dan juga melalui lirik-lirik lagunya. Itu bisa dilihat pada bagian chorus di mana Itchi tampil dengan penjiwaan yang emotional. Yeah!

abiki [04:22] menjadi lagu selanjutnya. Sampai memasuki track ke-empat ini pun, sekali lagi Canzel mempersembahkan sebuah lagu yang cukup worth untuk didengarkan. Awal lagu memang langsung diisi dengan bagian chorus yang kental dengan sentuhan Oshare-kei. Setelah itu musik kembali ke seperti biasanya, catchy, funky namun dibalut dengan riff-riff gitar yang heavy-harsh. Bagian verses dan bridge-nya cukup enak, sayang chorusnya terlalu standar. Kembali, di lagu ini Canzel menampilkan permainan aransemen yang apik dan sesuai porsinya. Solo gitar beberapa kali bisa disaksikan di sini.

Disusul kemudian dengan lagu berikutnya, TSUKI SASU HIKARI [04:31]. Mendengarkan intro-nya aku kira ini merupakan lagu ballad. Ternyata? Salah besar. Justru kali ini lagunya cukup aggressive dengan aransemen yang agak beda. Kembali dengan memainkan nada-nada berat, baik itu mulai dari gitar sampai dengan bass-nya. Sang drummer, Yukimi, kali ini tampil lebih liar dan gahar dibandingkan ke-empat buah lagu sebelumnya di atas tadi. Canzel memang gemar memainkan tune-tune distorsi gitar yang seakan-akan membuat lagu ini terasa rame dan bising. Tapi justru itu yang aku suka. Thanks to Mio & Ruri! And yeah, sekali lagi I really love the chorus. Vokal Itchi sekali lagi aku berikan apresiasi. Di pertengahan lagu, bagian interlude-nya, Itchi mengisinya dengan sesuatu yang tidak lazim, yaitu aksi growl. Haha. Oh iya, setelah itu Canzel secara sekilas sekilas memainkan solo-melodi-gutar yang rada nge-blues.

sore wa kareha ga maichiru goro ni... [03:24] benar-benar menjadi titik klimaks dalam album ini. Rasanya ini menjadi lagu paling aggressive yang bisa ditemukan dalam album ini. Belum apa-apa, awal lagu saja sudah diisi Itchi dengan harsh-vocal plus scream-nya. Keren juga! Musiknya sangat berat dengan nuansa gelap yang dibaluti dengan ritem-ritem ala Oshare-kei. Rasanya, Canzel juga bisa diandalkan nih dalam hal kualitas menampilkan lagu-lagu yang rada cadas. Momen paling berkesan, keren dan kickass bisa dijumpai sejak durasi 01:20, di mana diisi Itchi dengan growl-rap-vocal-nya yang jika dinyanyikan secara live bisa membuat penonton sontak ber-moshing-ria! Buat Mio dan Ruri, apresiasi kembali aku berikan untuk kesekian kalinya!

yume kui BARE we [04:35] menjadi lagu berikutnya. Lagu ini merupakan B-side track dalam single FiRST STEPS E.P. yang juga mengalami proses rekam ulang hingga terasa lebih segar, terutama pada bagian vokal-nya. Salah satu lagu Canzel favorite-ku. Verse, bridge dan chorus, semuanya habis dibabat Canzel dengan apik-nya! Untuk musik, well, tidak bisa aku ceritakan lebih banyak lagi selain kata: WOW! Pokoknya lagu ini super duper keren abis! Silakan simak sendiri dan berikan komentarmu di sini! Haha.... Dan akhirnya track penutup album jatuh pada lagu kaze odoru, sakura mau [0438], yang juga merupakan B-side track untuk single NeXT SEASON E.P.! Kali ini lagunya menampilkan musik-musik yang nge-beat ala dance layaknya lagu-lagu miliknya ayabie dan alice nine., jika kalian tidak keberatan sih. Chorus-nya cukup catchy dengan sentuhan techno-sound riang dan gembira. Nice job, Itchi! Momen terbaik pada lagu mungkin salah satunya ada pada aksi solo gitar yang dimainkan oleh Mio. Exciting song!

Yup, sebuah debut album yang sangat manis dari Canzel. Semua lagu yang ada di dalamnya sangat aku sukai. Termasuk track filler-nya sekalipun. Congrats, Canzel! Dan layak untuk ditunggu karya-karya selanjutnya dari mereka. Dan tentunya, nama band Canzel jangan sampai terlewatkan begitu saja. Mereka memang sangat layak untuk diperhatikan perkembangan dan sepak terjangnya di kemudian hari.